KADIN: Bank Nasional dan Pemda Perlu Mendukung Pembiayaan Infratruktur Kawasan Indonesia Timur

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia bersama Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia menggelar Trade and Investment forum 2015 bertajuk “Peran swasta dalam membantu Permasalahan Pembiayaan Percepatan Pembangunan Wilayah Indonesia Timur” bertempat di hotel Borobudur,  Jakarta, Senin (25/5/2015).

Trade Invesment _ Rosan

Menter Keuangan, Bambang Brojonegoro dalam keynote speechnya menyampaikan bahwa kawasan Indonesia timur memiliki pertumbuhan ekonominya cukup baik. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada Triwulan I Tahun 2015 pertumbuhan Indonesia sedikit melambat yaitu sebesar 4,47% sedangkan pertumbuhan tertinggi berada di wilayah Indonesia timur yaitu Bali-Nusa Tenggara sebesar 9%, diikuti sulawesi 7%. Hal ini tentunya memberikan harapan bagi para investor untuk berinvestasi di wilayah Indonesia Timur.

Menkeu juga mendorong pimpinan Kadin Indonesia Timur agar mendorong pemerintah daerah untuk menyalurkan anggaran daerah pada proyek-proyek infrastruktur. Menurutnya, proyek-proyek di sektor infrastruktur memiliki potensimultiplyer effect yang memicu pertumbuhan ekonomi.

Hal senada disampaikan Rosan P Roeslani, Direktur Utama PT. Recapital Advisor yang sekaligus sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Perbankan dan Finansial dalam paparannya bahwa Promosi investasi dapat mendorong realisasi kerjasama bisnis dan investasi melalui program kemitraan “P to P” (public to private partnership) dan Private to Private Partnership yang merupakan model partisipasi swasta dalam program nasional bagi percepatan pembangunan ekonomi Wilayah Timur Indonesia.

“Persoalan utama yang dapat menghambat investasi di Kawasan Indonesia Timur karena belum memadainya infrastruktur yang disebabkan masalah keterbatasan pembiayaan pembangunannya,” kata Rosan Roeslani, sebagai mitra pemerintah KADIN terus berupaya melakukan dukungan dalam membantu mempromosikan potensi investasi di wilayah Indonesia timursambilterusberupayamengajak para pengusahanasionaldan investor asing investasi pembangunan infrastruktur disana. Beberapa solusi yang dapat membantu mengatasi masalah pembiayaan melalui pembagian peran antara pelaku usaha swasta dan Pemerintah.

Pemerintah harus memperbaiki kostur APBD dengan mengurangi belanja pegawai dan meningkatkan belanja modal (infrastruktur), pemerintah pusat atau pemerintah daerah dapat mencari pinjaman dari Luar Negeri untuk membiayaan pembangunan, Semaksimal mungkin pinjaman dari dalam negeri berupa surat utang.Sedangkan swasta melalui Perbankan nasional dan Perbankan daerah menjadi agen pembangunan daerah dengan memberikan permodalan kepada industri pionir yang unggul, Pemerintah harus mengupayakan Perbankan asing turut menyalurkan  di dana kreditnya di kawasan Indonesia Timur.

Selama ini liquiditas perbankan di Indonesia terbatas karena rendahnya rasio dana Pihak ketiga terhadap Produk Domestik Regional Bruto, akibatnya dana yang tersedia untuk pembiayaan usaha terbatas karena rasio penyaluran kredit terhadap dana simpanan (LDR) sudah tinggi, Berdasarkan tabel Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Provinsi  dimulai 2001 – 2014, dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan PDRB paling tinggi lebih banyak dipegang oleh provinsi bagian timur Indonesia. Sebagaicontoh, yakni Tahun  2001, 2005, 2009, dan 2013 dipegang Papua dengan persentasi pertumbuhan masing-masing 8.89, 36.40, 22.22, dan 14.84. sehingga pemerintah harus mendorong masyarakat Kawasan Indonesia timur untuk rajin menabung.

Rosan menambahkan, bahwa dalam rangka menarik investor datang kekawasan Indonesia Kadin akan berupaya memfasilitasi pengembangan konektivitas wilayah Indonesia timur serta pembiayaan infrastruktur harus terus dilakukan secara bertahap, meliputi pengembangan infrastruktur dalam klaster (klaster industri pertambangan, industrikakao, kelautan, pariwisata) dan pengembangan konektifitas infrastruktur wilayah (pembangunan jalan, bandara, dan dermaga).

Kawasan Indonesia Timur menjadi target penting KADIN karena memiliki posisi geografis yang strategis dalam perkembangan ekonomi global. Setelah poros Atlantik (AS – Eropa) meredup, poros baru Asia Timur – Asia Selatan – Timur Tengah dan Poros Pasifik (Asia-Amerika Selatan) tengah menggeliat. Papua bisa menjadi koridor penting Poros Pasifik karena merupakan pintu Indonesia ke wilayah Pasifik. Karena itulah promosiinvestasi di wilayah Indonesia timurlayak mendapatkan perhatian,” terang Rosan.