27 April, 2015 – 19:30

JAKARTA, (PRLM).- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai industri modal ventura perlu direvitalisasi. Hal itu untuk meningkatkan peran dan kapasitas perusahaan modal ventura dalam mendorong lahirnya para wirausaha baru yang memiliki kontribusi positif bagi perekonomian nasional.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Haddad dalam sambutan pembukaan seminar nasional Revitalisasi Perusahaan Modal Ventura di Jakarta, Senin (27/4/2015), menekankan pentingnya upaya revitalisasi atas perusahaan modal ventura di Indonesia, terutama dalam mendorong perkembangan wirausaha di Indonesia, baik perusahaan start up, maupun UMKM, yang terutama berbasis inovasi dan teknologi baru.

Berdasarkan pada data OJK, total aset industri modal ventura pada tahun 2014 tumbuh sebesar 9,10% dari Rp 8,24 triliun pada tahun 2013 menjadi sebesar Rp 8,99 triliun pada akhir Desember 2014.

Namun demikian, market size industri modal ventura masih kecil dibandingkan industri keuangan non bank (IKNB) lainnya. Total market size industri modal ventura terhadap IKNB adalah sebesar 0,67% dari total seluruh aset IKNB sebesar Rp 1.351 triliun.

“Industri modal ventura memerlukan terobosan dan dukungan tidak saja dari kalangan industri modal ventura itu sendiri namun juga dari pemerintah,” kata Muliaman dalam keterangan pers.

Berbagai kebijakan tersebut dapat berbentuk insentif pajak dan pengelolaan equity program, peningkatan peran dari asosiasi perusahaan modal ventura dalam upaya pembentukan business angel network, serta penguatan sumber pendanaan dari perusahaan modal ventura dengan mengkaji kemungkinan pembentukan venture fund.

Untuk perluasan sumber pendanaan bagi perusahaan modal ventura, Ojk melihat dapat dilakukan melalui pengelolaan venture fund oleh perusahaan modal ventura. Dengan mekanisme venture fund ini diharapkan terkumpul dana-dana dari investor profesional seperti asuransi, dana pensiun dan dana dari pemerintah.

Dengan demikian modal ventura dapat memiliki akses sumber pendanaan yang lebih baik dalam melakukan pembiayaan kepada perusahaan pasangan usaha dari sejak awal pendiriannya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil ketua Umum Kadin Bidang Perbankan dan Finansial Rosan P. Roeslani menyatakan, keberadaan wirausaha sangat penting, karena selain untuk mengembangkan perekonomian juga untuk memajukan masyarakat melalui inovasi-inovasi mereka. Namun, dia menyayangkan wirausaha semacam ini sulit berkembang karena keterbatasan modal.

Menurut Rosan, penyaluran modal saat ini masih didominasi oleh perbankan, yang pola pembiayaannya harus prudent dan cenderung melihat aspek jaminan dan melihat riwayat ke belakang.

Akibatnya, perbankan akan cenderung membiayai usaha-usaha yang sudah berjalan lancar, sedangkan wirausaha-wirausaha baru dengan ide-ide bisnis dan inovasi baru sulit untuk mendapat akses permodalan karena masih sebatas potensial dan belum feasible apalagi bankable.

“Keberadaan Perusahaan Modal Ventura (PMV) sangat strategis karena akan memberi alternatif sumber pembiayaan untuk jangka waktu tertentu dalam bentuk penyertaan modal, penyertaan melalui pembelian obligasi konversi, dan/atau pembiayaan berdasarkan bagi hasil usaha,” ungkap Rosan.

Mengingat pertumbuhan perusahaan modal ventura yang relatif masih rendah serta pertumbuhan aset permodalan yang masih relatif rendah juga, maka peran organisasi dunia usaha sangat diperlukan untuk menjembatani antara Pemerintah-Investor-Wirausaha.

Menurut Rosan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat jika keberadaan wirausaha yang saat ini belum bankable dapat ditingkatkan kapasitas usahannya menjadi bankable melalui sumber pembiayaan modal ventura.

Rosan juga mengatakan, sebagai wujud nyata dari komitmen itu KADIN Indonesia membentuk lembaga kemitraan pembiayaan “Palapa Nusantara Berdikari” yang telah dan akan melakukan akselarasi penyaluran kemitraan modal kerja dan investasi kepada Usaha Kecil Menengah (UKM) yang belum Bankable di daerah-daerah. (Satrio Widianto/A-89)***

 

Sumber: Pikiran Rakyat