Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Perbankan dan Finansial Rosan Roeslani, menilai, semua lini bisnis perlu digerakkan guna menyokong laju pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan ekonomi global. Sektor-sektor usaha kecil menengah (UKM) dan industri kreatif yang selama ini mendapat porsi kecil harus didorong karena lebih kokoh dalam menghadapi gejolak pasar global.

“Imbas gejolak di pasar global tidak begitu menyentuh sektor UKM dan industri kreatif. Sektor ini walaupun berskala kecil dan kontribusinya terhadap ekonomi nasional masih di bawah lima persen, sangat layak diandalkan sebagai salah satu solusi penggerak ekonomi nasional,” papar Rosan dalam acara “Dialog Ekonomi Pengusaha Lokal – Nasional” di Hotel Crowne Plaza, Bandung, Jawa Barat, Kamis (8/10/) sebagaimana dalam siaran pers yang diterima SP, Kamis (8/10).

Menurut Rosan, Jawa Barat merupakan pusat industri kreatif dan UKM nasional. Bandung, misalnya, sudah lama dikenal sebagai pusat kreativitas desain, fashion, arsitektur, film dan video, radio, musik, hingga teknologi perangkat lunak. Bandung dikenal sebagai trend setter dalam hal mode bagi kaum muda, selain telah menguatkan posisi sebagai kota jasa yang menawarkan berbagai produk distro, kuliner, rumah produksi sinetron, dan produk seni rupa.

Dalam pandangan Rosan, tantangan yang dihadapi industri kreatif adalah minimnya kebijakan yang mendukung iklim kreasi, misalnya dalam hal perizinan,investasi, permodalan, dan perlindungan hak cipta. Problem lainnya adalah industri kreatif yang berskala home industry masih berjalan sendiri-sendiri. “Yang dibutuhkan adalah formula rantai ekonomi bagi industri kreatif, yang mencakup kegiatan kreasi, produksi, hingga distribusi atau pemasaran. Bila rangkaian kegiatan ini bisa disinergikan maka produktivitas dan nilainya bisa jauh lebih besar,” terang dia.

Rosan juga memaparkan pentingnya UKM sebagai penggerak ekonomi di Jabar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 menunjukkan Provinsi Jabar berada di peringkat kedua dalam jumlah dan jenis UKM per desa/kelurahan dengan jumlah total 16.405. Industri makanan dan minuman menempati posisi pertama dengan jumlah 4.023, disusul industri olahan dari kayu (3.987), industri anyaman (2.266), industri gerabah/keramik (1.828), serta industri konveksi dan tenunan (1.779).

Sumber: Suara Pembaruan