Jakarta, GATRAnews – Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perbankan dan Finansial Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, kontribusi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah bagi perekonomian nasional sangat signifikan. Sumbangsih UMKM pada Produk Domestik Bruto (PDB) dalam lima tahun terakhir selalu berada di kisaran 50% setiap tahun, dengan jumlah yang mencapai 98% dari total pelaku usaha Tanah Air. Apalagi, pada 1998 dan 2008, UMKM terbukti cukup kokoh menghadapi terjangan krisis.

“Untuk itulah keberadaan UMKM perlu terus didorong dan mendapat perhatian serius para pemangku kepentingan ekonomi, terlebih di saat gejolak ekonomi menggoyahkan struktur bisnis skala besar,” kata Rosan, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (16/10).

Ia mengatakan hal itu, dalam sambutan yang dibacakan pada acara “Aktivasi Kerjasama Pengembangan Ekspor, di Gorontalo. Akan tetapi, lanjut dia, UMKM hingga saat ini masih menghadapi kendala utama dari sisi akses ke permodalan, sambung Rosan. Skema pembiayaan utama melalui jalur perbankan relatif konservatif, dengan persyaratan yang ketat dan pola yang rumit bagi pelaku UMKM.

Di sisi lain, UMKM memiliki nilai keuntungan yang terhitung kecil dan kebutuhan dana relatif cepat sehingga kurang mendapatkan prioritas alokasi kredit perbankan, meskipun memiliki potensi yang besar.

“UMKM membutuhkan pendekatan dengan skema yang fleksibel, termasuk dalam hal bunga dan tenor pinjaman. Hal ini dikarenakan sistem pengelolaannya rata-rata di bawah standar profesional. Untuk itulah Kadin Indonesia menilai penting untuk menghadirkan sistem pembiayaan alternatif yang dialokasikan khusus bagi sektor UMKM,” ujar Rosan.

Untuk itu, Kadin Indonesia telah mendirikan PT Palapa Nusantara Berdikari yang diinisiasikan oleh Rosan Roeslani. Terhitung sejak 2013, Kadin bersama Kementerian Perdagangan RI dan lembaga terkait, termasuk Bank Mandiri dan Asosiasi Ekspor Indonesia (ASEI) menggelar Klinik Bisnis di berbagai daerah.

Melalui klinik inilah, PT Palapa Nusantara Berdikari akan menjaring UMKM potensial yang memiliki potensi ekspor dan dinilai layak untuk mendapatkan bantuan modal lewat pola kemitraan.

“Tidak hanya itu, kami ingin mendorong para pelaku UMKM, termasuk di Gorontalo, untuk membidik pasar yang lebih luas hingga ke segmen ekspor,” lanjut Rosan.

Rosan menjelaskan, struktur ekonomi regional Provinsi Gorontalo, meskipun mengalam perlambatan di tengah gejolak ekonomi nasional-global, namun relatif tidak mengalami goncangan berarti sebagaimana dialami provinsi-provinsi di Kalimantan. Salah satu penopang kondisi ini adalah UMKM dan sektor informal. Sektor usaha primer, yakni pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan masih menjadi kontributor utama penggerak ekonomi Gorontalo dengan 37,48 persen (data BPS Gorontalo 2014).

“Sementara itu, sumbangan bisnis berskala besar seperti konstruksi, propersi, dan jasa perusahaan pada PDRB Provinsi ini belum mencapai separuh sumbangan sektor primer,” jelasnya.

Dengan produk yang khas, ekspor Gorontalo tetap mengalami lonjakan drastis. Nilai ekspor kumulatif yang melalui Pelabuhan di Gorontalo Januari-Agustus 2015 mencapai US$26.456.234 atau meningkat 396,07% dibanding periode yang sama tahun 2014 (data BPS).

Selain dari sektor primer, sumbangan tiga segmen UKM utama di Gorontalo, yaitu industri makanan dan minuman, industri  dari kayu, dan industri anyaman juga berpengaruh besar. Sedangkan, nilai impor mengalami penurunan. Hal ini mendukung neraca perdagangan Gorontalo tidak mengalami defisit sebagaimana provinsi lain.

“Yang lebih penting adalah UMKM kita tidak stagnan pada komoditas primer. Karena itu, melalui Klinik Bisnis ini kami juga mendorong tumbuhnya kreativitas dan inovasi untuk menyajikan diversifikasi dan nilai tambah pada produk. Misalnya, dari komoditas primer dijadikan produk olahan,” saran Safari Azis, Ketua Komite Tetap Modal Ventura dan Pembiayaan Alternatif Kadin Indonesia yang mewakili Kadin dan PT Palapa Nusantara Berdikari dalam acara ini.

Melalui diversifikasi produk dan pemanfaatan teknologi kreatif,menurut Safari,  jualan UKM akan mendapatkan nilai tambah baik dari sisi keuntungan yang diperoleh maupun kualitas dan kekhasan produk yang ditawarkan.

Safari yang juga merupakan Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) menjelaskan, upaya pengembangan dan penguatan usahawan daerah ini sejalan dengan amanat dari misi Kadin Pusat Kepengurusan Periode 2010-2015 yang berkomitmen untuk menjadi motor pendorong agar daerah dapat berperan lebih besar dalam penguatan dan pemerataan ekonomi nasional.

Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, Kadin Indonesia membentuk lembaga kemitraan pembiayaan “Palapa Nusantara Berdikari” yang telah dan akan melakukan akselarasi penyaluran kemitraan modal kerja kepada UKM di daerah-daerah.

Acara Klinik Bisnis di Gorontalo mengangkat subtema: Pemberdayaan Usahawan dan Potensi Daerah untuk Meningkatkan Ekspor. Acara yang disusul dengan penyaluran bantuan modal bagi UKM ini sebelumnya telah digelar di Sumatera Utara, Bengkulu, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Papua.

sumber: www.gatra.com