JAKARTA,  Kalangan dunia usaha menilai dampak positif paket ketujuh kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah sangat tergantung realisasi. Realisasi segera atas dukungan itu akan bermanfaat dalam upaya mendorong industri padat karya berikut segenap dampak ikutannya.

Menurut Rosan Roeslani, apabila dukungan melalui kebijakan tersebut dapat dilaksanakan segera, diharapkan daya beli masyarakat di daerah yang padat industri pun akan terjaga dan meningkat.

“Paket kebijakan ekonomi ketujuh tentunya bagus, tetapi dampaknya tergantung realisasi dari kebijakan tersebut,” kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani, Sabtu (5/12), di Jakarta.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat menuturkan, upaya pemerintah melalui paket kebijakan I-VII sudah berada pada jalur tepat untuk membenahi persoalan yang dihadapi pelaku usaha. “Kalau ada yang kurang di sana-sini, itu yang dibenahi. Namun, paket-paket itu arahnya sudah benar untuk mendukung dunia usaha,” ujar Ade.

Menurut Ade, pelaku usaha berharap pada paket-paket kebijakan berikutnya diberikan pula dukungan lanjutan lain. “Entah itu keringanan pajak, pemotongan PPh badan 25 persen, atau dukungan lain yang akan membantu pelaku usaha,” katanya.

Ade berpendapat, seandainya seluruh dukungan yang diberikan melalui paket-paket itu terlaksana optimal, maka akan memberi kecepatan penuh bagi pelaku industri Indonesia untuk menggarap pasar begitu perekonomian global pulih.

“Problem sekarang itu kan karena pelemahan ekonomi global. Jadi, kalau sejak dini pemerintah memberikan dukungan bagi industri dalam negeri seperti ini, begitu ekonomi global pulih kinerja kami akan full speed,” katanya.

Menurut Ketua Dewan Pembina Asosiasi Produsen Sepatu Indonesia Harijanto, tidak ada negara yang kuat tanpa industri yang bertumbuh. “Bagi Indonesia yang memiliki populasi penduduk besar, industri padat karya masih sangat dibutuhkan,” katanya.

Harijanto menuturkan, hal ini karena struktur masyarakat Indonesia yang saat ini menganggur rata-rata berpendidikan SMP ke bawah. Jumlahnya sekitar 50 juta orang.

“Pemerintah, melalui BKPM, terus memberikan dukungan melalui desk khusus investasi tekstil dan sepatu untuk serius menangani, secara kasus per kasus, problem yang dihadapi industri padat karya,” kata Harijanto.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi sektor tekstil dan sepatu periode Januari-September 2015 sebesar Rp 11,5 triliun. Perinciannya, realisasi investasi di sektor tekstil Rp 9,8 triliun dan realisasi investasi di sektor sepatu/alas kaki Rp 1,6 triliun. Serapan tenaga kerja efektif di kedua sektor ini 106.103 orang.

Sumber : ekbis.sindonews.com