OTORITAS Jasa Keuangan akan membenahi modal ventura atau investasi berupa penyertaan modal ke perusahaan swasta sebagai pasangan usaha (investee company) untuk jangka waktu tertentu. Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad mengungkapkan akan mengeluarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan mengenai modal ventura dalam seminggu atau dua minggu ke depan.

“Peraturan OJK sudah siap tinggal kita launching saja, seminggu (atau) dua minggu ini kita rilis,” ujarnya dalam Seminar Nasional Revitalisasi Modal Ventura di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (27/4). Menurut Muliaman  perusahaan modal ventura yang sudah ada sejak 1973 belum memiliki pertumbuhan yang signifikan hingga 2014.

Perusahaan-perusahaan modal ventura yang ada di Indonesia sekarang juga disebutkan banyak yang menyimpang jalur atau kehilangan arah dan semangat. Sebanyak 70% dari 60 perusahaan modal ventura yang aktif lebih banyak memberikan pembiayaan seperti perbankan bukan investasi jangka panjang dengan berikan modal.

“Sangat disayangkan saat ini kebanyakan perusahaan modal ventura bagi hasil atau beri kredit, hanya 20%equity capital, sekitar 11% penyertaan dari pembelian obligasi konversi,” tambah Muliaman. Selain itu, perusahaan modal ventura juga semestinya mendukung dan memberi pendampingan bukan hanya menghitung investasi dan hasilnya.

Sejak awal perusahaan dan investor perlu melakukan identifikasi karakteristik, edukasi, komunikasi, dan desain kolaborasi untuk memulai modal ventura. Mulai dari apa yang didapat oleh pelaku usaha, investor, sampai cara untuk membangun kapasitas keberlangsungan usaha ke depan sampai naik level atau mendapat pendanaan dari bank.

“Kalau sekarang anak-anak muda yang baru mau mulai sulit dapat dari bank, karena kalau bank pasti minta jaminan dan melihat kinerja usaha selama tiga tahun sebelumnya,” papar Muliaman. Hal-hal seperti itu nantinya akan diatur dengan lebih jelas dalamperaturan OJK (POJK).

Mengenai sanksi, Muliaman mengatakan hal itu tidak ada karena masih ada pembicaraan dengan pengusaha juga asosiasi modal ventura. Sejauh ini OJK masih memperbolehkan aktivitas pemberian dana non modal ventura sebagai sampingan.

Dia berharap ke depan wirausaha Indonesia terutama industri kreatif dan teknologi golongan usaha mikro kecil dan menengah semakin berkembang karena akses keuangan semakin terbuka. Hal itu juga menjadi bagian dari inklusi keuangan.

Kepala Eksekutif Industri Keuangan Nonbank OJK, Firdaus Djaelani, mengungkapkan sepanjang 2014 aset modal ventura hanya bertumbuh 9%-10% menjadi Rp8,99 triliun dari tahun sebelumnya Rp8,24 triliun. Market size modal ventura hanya mendapat porsi 0,67% dari total seluruh aset industri keuangan nonbank (IKNB) sebesar Rp1.351 triliun.

Terhambatnya modal ventura lebih disebabkan oleh keterbatasan sumber pendanaan murah dan jangka panjang, sumber daya manusia yang belum terpenuhi, dan kurangnya perhatian pemangku kepentingan. POJK yang akan keluar lebih dari satu tersebut akan lebih menitikberatkan pada insentif pajak, pengelolaan equity program, business angel network sebagai jembatan pelaku usaha dan investor, serta kemungkinan pembentukan venture fund.

“OJK juga enggak mungkin sendirian menerapkan hal ini, butuh kerja sama dan dukungan politik dari kementerian koordinator, Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, Kementerian UMKM, Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia), Badan Ekonomi Kreatif,” jelas Firdaus. Peran aktif pemerintah daerah untuk mengoptimalkan Bank Pembangunan Daerah, perusahaan modal ventura, sampai Jamkrida juga perlu ditingkatkan.

Wakil Ketua Umum Kadin bidang Perbankan dan Finansial Kadin, Rosan Roeslani menyebut memang sudah saatnya modal ventura kembali dihidupkan. Hal itu mengingat jumlah wirausaha di Indonesia baru sekitar 1,64% dari jumlah penduduk, di bawah standar internasional 2%.

“Paling tidak Indonesia punya 5 juta wirausaha tapi baru 0,2%-0,3% yang termotivasi untuk inovasi sedangkan di Malaysia 2,1%, Korea Selatan 4,1%, Thailand 4%, Tiongkok dan Jepang masing-masing 10%, dan Amerika Serikat 12%,” tutur Rosan. Padahal secara demografi Indonesia punya potensi besar untuk menggalang wirausaha dengan 65 juta penduduk yang dalam usia 15 tahun hingga 29 tahun.

Kadin sendiri sudah membentuk PT Palapa Nusantara Berdikari yang mirip seperti perusahaan modal ventura. Pendanaan diberikan kepada usaha kecil dan menengah yang sekarang sudah berada di 15 provinsi.

Akan tetapi bentuk perseroan terbatas mengalami berbagai kendala terutama untuk menambah modal dan pengetahuan masyarakat yang masih terbiasa dengan konsep perbankan. Oleh sebab itu Kadin mengapresiasi dukungan OJK untuk modal ventura. (E-1)

Sumber: Media Indonesia