Rosan Perkasa Roeslani, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perbankan dan Finansial menilai, Indikator ekonomi di berbagai daerah mengindikasikan perekonomian Indonesia masih menghadapi tantangan yang cukup berat. Kondisi ini sangat terasa di daerah yang masih mengandalkan komoditas sebagai penopang perekonomian masyarakat seperti di sumatera Utara, hal ini mengakibatkan melemahnya kegiatan sektor-sektor utama di daerah ini, sehingga berdampak pada menurunnya pendapatan yang menyebabkan melemahnya daya beli.

“Kami menilai hal ini disebabkan karena pertumbuhan yang fundamentalnya tidak kuat. Sumatera Utara mengandalkan produksi migas, batubara, dan CPO. Semuanya adalah komoditas yang harganya tegantung pada pasar dunia. Artinya kita lupa membangun fondasi industri yang kuat sebagai landasan ekonomi yang mandiri,” papar Rosan Roeslani dalam Dialog dengan pengusaha di Provinsi Sumatera Utara (15/10/2015).

Untuk membentuk perekonomian yang kuat, menurut Rosan, Indonesia perlu membangun industri. Namun, pembangunan industri memerlukan waktu yang lama dan dana yang besar. Untuk itu, CEO Recapital Group ini mengusulkan “solusi bagi Sumut pembangunan industri berdasarkan industri prioritas. Ada empat industri prioritas yang diusulkan Rosan, yaitu industri berbasis agrobisnis, industri berbasis komoditas, industri berbasis kemaritiman, dan industri berbasis pariwisata”.

“Mengapa keempat industri ini? Karena semua ini sudah dimiliki Sumut. Kita tinggal membangun fundasi bisnisnya dan memberikan nilai tambah pada produknya,” kata Rosan.

Menurut menurut calon Ketua Kadin Indonesia ini, pengembangan keempat jenis industri tersebut tidak membutuhkan biaya yang terlampau besar karena tidak perlu memanfaatkan potensi yang sudah dimiliki. Yang dibutuhkan saat ini adalah peningkatan kualitas SDM, teknologi untuk mengembangkan industri prioritas dan dukungan infrastruktur listrik. Pengembangan industri prioritas akan menghasilkan diversikasi produk andalan. Dengan demikian, Sumut tidak hanya mengandalkan satu-dua produk unggulan sebagai pendongkrak ekonomi.

“Kita bisa belajar dari situasi saat ini. Karena kita hanya mengandalkan satu-dua produk, saat harganya jatuh di pasaran, ekonomi kita terancam ambruk. Itulah pentingnya diversifikasi produk industri,” sambung Rosan.

Menurut Rosan, “Pemerintah telah mengeluarkan Paket Ekonomi Jilid III yang fokus menjadikan industri sebagai fondasi ekonomi Indonesia, Maka ini saat yang tepat bagi Sumut sebagai pionir untuk menjadikan Industri sebagai pondasi baru perekonomian Daerah yang kaya komoditas, hal ini sangat mungkin tercapai karena Sumut merupakan provinsi dengan potensi sumber daya mineral industri dan batu bara yang melimpah, dan saat ini belum dimanfaatkan menjadi salah satu bahan bakar pembangkit listrik”. Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, potensi batu bara di Sumut yang terdapat di tiga wilayah, yakni Nias, Mandailing Natal (Madina) dan Labura.

“Pekerjaan pertama yang harus dilakukan Pemerintah dan swasta yaitu mempercepat pembangunan infrastruktur listrik agar mampu mengoptimalkan potensi batu bara yang melimpah, dan menghidupkan hilirisasi industri di Sumut”, tegas Rosan. Pembangunan pembangkit listrik dan optimalisasi penggunaannya untuk industri menjadi prioritas dibanding rencana pembangunan sarana prasarana fisik lainnya.

Sumut harus siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015

Menurut Rosan, faktor kesuksesan yang harus dipersiapkan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 yaitu penguatan lembaga pemerintah maupun ekonomi daerah, sebagai motor penggerak efektifitas pengaturan dan efisieni pemanfaatan sumber daya ekonomi di daerah melalui menciptakan produk inovatif dan kreatif, yang dapat mendorong pengembangan dan penguatan wirausaha agar tahan dan kuat bersaing secara global dalam merespons menghadapi MEA.

MEA ibarat dua sisi mata uang yang bertolak belakang bagi Indonesia. Pada satu sisi memberikan kesempatan Indonesia memimpin perdagangan di Asia Tenggara. Tapi di sisi lain bisa-bisa Indonesia hanya sekadar menjadi lapak dagang negara tetangga.

Namun demikian, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan potensi Indonesia yang merupakan negara terbesar di kawasan Asia Tenggara dalam memimpin persaingan Masyarakat Ekonomi Asean sangat besar.

“Dari total penduduk saja, Indonesia di atas 40% dalam keseluruhan penduduk Asean. Jadi, potensi kita untuk bersaing dan memimpin sebenarnya sangat besar,” tandas Rosan.

Menurut Rosan, potensi itu juga didukung bahwa sebenarnya 50% perekonomian Asean ada di Indonesia. Tapi masih terdapat banyak hal yang menghambat potensi-potensi tersebut untuk bertumbuh hingga bisa mencapai ke titik maksimal.