Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani dalam jumpa pers, Kamis (5/6/2015), mengatakan, proyek infrastruktur membutuhkan sumber pembiayaan yang besar dan bersifat jangka panjang. Sumber pembiayaan dari perbankan seringkali terhambat karena berjangka pendek. “Perlu menarik investor asing untuk mendanai proyek infrastruktur. Namun, jangan melalui kerja sama bilateral, tetapi multilateral,” katanya.

Menurut Rosan, pembiayaan pembangunan infrastruktur melalui kerja sama bilateral mensyaratkan penggunaan barang atau jasa dari negara pemberi pinjaman antara 30 persen dan 100 persen. Akibatnya, kandungan impor semakin besar. Ia mencontohkan, pinjaman dari Jepang mensyaratkan pemakaian kandungan dari Jepang sampai 30 persen. Ia berharap jangan sampai pinjaman dari luar negeri malah mematikan industri dalam negeri. (APO/NAD)

Sumber: Kompas Cetak