Pemerintahan Presiden Joko Widodo kemarin telah menepati janjinya dengan mengumumkan paket kebijakan September Jilid II. Kebijakan ini untuk merespons ekonomi yang masih lesu sebagai efek dari pelemahan ekonomi global.

“Paket kebijakan II yang dikeluarkan oleh pemerintah pada intinya adalah deregulasi dan debirokratisasi,” kata Rosan P Roeslani Wakil ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perbankan dan Finansial dalam acara Seminar Pemberdayaan Usahawan dan Potensi Daerah untuk Peningkatan Ekspor di Novotel Pangkal Pinang – Bangka Belitung pada Kamis (1/10/2015).

Deregulasi dan debirokratisasi adalah hal yang sangat penting dilakukan karena akan meningkatkan iklim investasi sehingga investasi akan masuk ke Indonesia. Deregulasi dan debirokratisasi juga sangat penting dilaksanakan oleh pemerintah karena hingga saat ini, peringkat kemudahaan berbisnis Indonesia masih sangat rendah (peringkat 114) jika dibandingkan negara-negara tetangga seperti Thailand (peringkat 26), Malaysia (18), Singapura (1), Filipina (95), dan Vietnam (78). “Oleh sebab itu, deregulasi dan debirokratisasi dalam paket kebijakan II yang dikeluarkan oleh pemerintah perlu diapresiasi”, papar Rosan.

Rosan melanjutkan, “walaupun deregulasi dan debirokratisasi sangat penting, namun dampaknya terhadap ekonomi Indonesia tidak akan terasa dalam waktu dekat. Dampaknya akan terasa dalam jangka menengah (1-2 tahun). Mengingat dampaknya tidak akan terasa dalam waktu dekat, pemerintah perlu menjangkar espektasi masyarakat yang sudah berharap paket kebijakan ekonomi II akan terasa.”

Rosan menambahkan, menangkap harapan besar masyarakat terhadap implementasi kebijakan ekonomi II penting bagi Pemerintah. Survei Konsumen Bank Indonesia mengindikasikan bahwa tingkat keyakinan terus mengalami kelemahan sepanjang tahun 2015, di bulan agustus penurunan Indeks Kondisi Ekonomi sebesar 2,3 poin dan Indeks Ekspektasi Konsumen sebesar 0,5 poin dari bulan sebelumnya. Hasil survei mengindikasikan bahwa konsumen memperkirakan tekanan kenaikan harga semakin menurun pada September 2015. Penurunan tekanan kenaikan harga diperkirakan terjadi pada seluruh kelompok komoditas, dengan penurunan terbesar terjadi pada kelompok bahan makanan dan kelompok sandang.

Kebijakan pemerintah yang telah di keluarkan belum menyentuh pada persoalan jangka pendek, seperti pelemahan rupiah, terkurasnya cadangan devisa, dan harga saham yang berguguran dengan indeks harga saham gabungan. Walaupun belum dapat dirasakan langusung, tetapi kebijakan pemerintaha tahap II ini sudah langsung menuju pada sejumlah persoalan. Misalnya, pajak bunga deposito yang saat ini 20 persen akan dipangkas tinggal separuhnya bagi eksportir yang menyimpan devisa hasil ekspor (DHE) dalam valuta asing selama sebulan di perbankan dalam negeri. Pemotongan akan lebih tinggi lagi, tinggal 7,5 persen, jika ditanam tiga bulan, 2,5 persen untuk periode enam bulan, dan nol persen untuk jangka waktu sembilan bulan atau lebih.

Rosan dalam Kesempatan itu mengajak para pelaku usaha UKM Bangka Belitung untuk tetap optimis dalam menyikapi perlemahan ekonomi saat ini. Menurutnya, Secara geografis letak Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menguntungkan bagi pengembangan sektor ekonomi. Pasalnya lautan Bangka Belitung menjadi bagian jalur perdagangan internasional. Tak hanya itu, banyak potensi unggulan sumber daya alam darat dan laut yang dapat membangkitkan pertumbuhan ekonomi antaranya, pertanian dan kehutanan, pesisir, perikanan dan kelautan.

Menurut Rosan, masih terdapat beberapa sektor yang harus diperhatikan untuk membangun ekonomi industri, salah satu langkah yang dapat dilakukan yakni membangun infrastruktur dengan mencukupi kebutuhan listrik. Secara geografis Babel memiliki energi alternatif pembangkit tenaga listrik seperti, nuklir atau green teknologi.

“Banyak potensi lokal yang dapat dikembangkan oleh enterpreneur- enterpreneur baru di Babel dalam rangka menumbuhkan usaha kecil potensial yang saat ini mengalami kesulitan dalam pemodalan melalui jalur perbankan dan lembaga keuangan lain karena dinilai tidakbankable. Untuk itulah mereka perlu dibantu melalui skema pemodalan lain agar usaha mereka dapat berkembang,” papar Rosan.

Atas pertimbangan tersebut, PT Palapa Nusantara Berdikari yang didirikan oleh Kadin akan menyeleksi usaha-usaha kecil potensial di wilayah Babel dengan standar-standar tertentu. Selanjutnya usahawan-usahawan tersebut akan mendapatkan bantuan modal dan pendampingan guna mengembangkan bisnis yang telah dirintis hingga layak mendapatkan pinjaman dari perbankan (bankable) dan berkualifikasi ekspor.
IMG_1677

IMG_1676

IMG_1675

IMG_1674

IMG_1673

Seminar ini dibuka oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Babel, H.M. Yuliswan, Dalam sambutannya, Yuliswan mengungkapkan pentingnya bantuan modal bagi para pelaku usaha di provinsi ini. Menurutnya, melalui bantuan modal, Babel tidak hanya dikenal sebagai penyumbang bagi pendapatan nasional dari sisi kekayaan alam, tetapi juga melalui produk bahan baku dan bahan jadi yang dikembangkan dunia usaha. “Jadi, Babel tidak hanya berkontribusi karena kekayaan laut yang sangat besar, tetapi juga melalui pengusaha-pengusaha lokal yang bisa berbicara banyak secara nasional.

Kadis juga mendorong tumbuhnya motivasi masyarakat untuk berwirausaha. Dia menerangkan, angka wirausaha Babel masih 1,67 persen. Sementara itu, produk luar terus berdatangan ke Babel. “Jangan sampai kita hanya sekadar dilihat sebagai pasar atau pembeli potensial. Kita juga perlu menghasilkan produk dan memasarkan ke luar,” kata Kadis
Ketua Umum kadin Provinsi Bangka Belitung Thomas Jusman, menilai dan sekaligus merasakan seminar dan klinik bisnis ini sangat relevan dan signifikan diselenggarakan di Babel yang sedang mengalami tidak saja pelambatan ekonomi akibat faktor global dan nasional, namun juga tersendatnya aliran perekonomian akibat anjloknya harga timah. Perekonomian kepulauan bangka belitung sekarang ini bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga.

Realitas perekonomian faktual di babel masih mencatat timah merupakan komoditas unggulan ekspor. Berdasarkan data BPS Babel, nilai ekspor provinsi kepulauan bangka belitung agustus 2015, hanya sebesar us$18,39 juta, menurun drastis hingga 82,18 persen dibanding nilai ekspor bulan juli 2015 yang mencapai us$103,19 juta. Penurunan drastis nilai ekspor tersebut tentunya sangat berpengaruh dan semakin mengganggu kehidupan perekonomian kepulauan bangka belitung. “Para pengusaha dan pedagang kehilangan omset hingga 80 persen di satu sisi, di sisi lain daya beli masyarakat pun semakin turun karena tersumbatnya nadi ekonomi. Pada gilirannya seperti yang kita saksikan dan alami toko-toko dan pasar-pasar di babel sepi transaksi”, terang Thomas.

Acara ini juga dihadiri perwakilan Direktorat Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, PT Palapa Nusantara Berdikari, PT Bank Mandiri, Asosiasi Ekspor Indonesia (ASEI), KADIN Babel dan Bea Cukai Wilayah Babel.