Wakil Ketua Umum Kamar dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Perbankan dan Finansial, Rosan P Roeslani mengatakan, nilai ekspor industri kreatif di Yogyakarta terus mengalami kenaikan. Dari USD220 juta atau sekitar Rp2,6 triliun pada 2013 menjadi USD242 juta atau sekitar Rp2,89 triliun pada tahun 2014.

“Apabila fokus dibina, potensi ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat Yogyakarta dan berpengaruh pada nilai ekspor maupun ketahanan ekonomi nasional,” papar Rosan dalam sambutan tertulis di Seminar Pemberdayaan Usahawan dan Potensi Daerah untuk Meningkatkan Ekspor, Hotel Harper Yogyakarta, Kamis (3/9/2015).

Seminar ini merupakan bagian dari kegiatan Kadin dan Kementerian Perdagangan untuk membantu UKM-UKM lokal yang dinilai potensial dan memiliki peluang untuk berkembang pada lini bisnis nasional maupun global.

Rosan Roeslani menjelaskan, industri kreatif dapat berperan sebagai pencipta nilai dan memberikan nilai tambah. “Industri kreatif umumnya berskala IKM dan Indonesia memiliki sekitar 3,9 juta unit usaha yang merupakan salah satu benteng sektor ekonomi dalam menghadapi gempuran efek krisis ekonomi dunia,” kata dia.

Menariknya, industri kreatif berkembang secara cepat di Yogyakarta sehingga berpengaruh secara nasional dan menjadi potensi yang luar biasa.Keuntungan usaha kreatif Yogyakarta dalam pandangan Rosan dikarenakan mudahnya akses, ketersediaan tenaga kerja muda terdidik dengan spesialisasi industri kreatif, banyak lembaga-lembaga pendidikan terkait dengan industri kreatif, dan banyaknya komunitas di berbagai bidang kreatif, baik di bidang seni budaya, produk tradisional, start-up teknologi informasi hingga produk olahan khas.

Kalangan muda utamanya para mahasiswa, banyak yang tertarik dan antusias dengan industri kreatif. Oleh karenanya, Kadin sangat mendukung dan akan menfasilitasi mereka untuk berkembang. Tentunya ini akan menjadikan Yogyakarta sebagai kota persemaian untuk para wiraswasta muda.

Untuk mendukung hal ini, PT Palapa Nusantara Berdikari yang didirikan oleh Kadin akan menyeleksi usaha-usaha kecil potensial di wilayah DIY dengan standar-standar tertentu. Selanjutnya usahawan-usahawan tersebut akan mendapatkan bimbingan bisnis (klinik bisnis), pendampingan dari sini peningkatan kualitas produk dan manajemen sederhana. Selanjutnya, UKM yang dinilai layak akan bantuan modal dan pendampingan guna mengembangkan bisnis yang telah dirintis hingga layak mendapatkan pinjaman dari perbankan (bankable) dan berkualifikasi ekspor.

Sebelumnya, kegiatan seperti ini sudah digelar di 13 provinsi lain, yaitu Bali, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Bengkulu, Sulawesi Tenggara, Papua, dan pekan lalu di NTT.

Seminar Pemberdayaan Usahawan dan Potensi Daerah untuk Meningkatkan Ekspor, Hotel Harper, Yogyakarta, Kamis (3/4/2015).

Seminar Pemberdayaan Usahawan dan Potensi Daerah untuk Meningkatkan Ekspor, Hotel Harper, Yogyakarta, Kamis (3/4/2015).


Pada kesempatan yang sama La Ode Piter Hanafi, Kasubdit Kerjasama dan Pengembangan Kerjasama Direktorat Kerjasama Pengembangan Ekspor Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI menjelaskan bahwa kerjasama Kemendag dan Kadin bertujuan antara lain melakukan pembinaan kepada para pemangku kepentingan di daerah dalam meningkatkan kemampuan pengembangan potensi ekonomi daerah yang berorientasi ekspor, terutama menjelang pemberlakuan MEA.

“Jangan sampai kita hanya menjadi pasar bagi produk-produk yang dihasilkan negara-negara ASEAN dan dunia. Kita juga harus dapat membanjiri pasar negara-negara ASEAN dengan produk-produk Indonesia, termasuk produk-produk dari DIY,” sambung Piter.

Dia melanjutkan ekspor nasional dalam lima tahun terakhir sudah didominasi produk non Migas. Data neraca perdagangan hingga Juli 2015, contohnya, ekpor migas masih di angka USD 11.392,40. Sementara itu, ekspor non migas telah mencapai USD 78.369,00.

Piter menambahkan, Kemendag akan menggelar “Trade Expo Indonesia (TEI)” yang ke-30 pada tanggal 21-25 Oktober 2015 di Jakarta International Expo (JiExpo), Kemayoran, Jakarta. Tahun ini Kemendag mentargetkan partisipasi dari 2.000 perusahaan dan 15.000 pengunjung dari dalam dan luar negeri. “Karena itu kami mengundang entrepreneur Yogyakarta untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini,” tutup Piter.

Sementara itu Ketua Kadin DIY GKR Pembayun dalam sambutan yang dibacakan Gonang Djuliastono berterima kasih atas kegiatan yang menyatukan para pemangku kepentingan dalam pengembangan UKM dan ekspor nasional. Selain para pelaku usaha kecil dan entrepreneur di bawah Kadin, klinik bisnis ini juga menghadirkan pihak pemerintah serta perbankan (Bank Mandiri) dan lembaga pembiayaan lain (Asosiasi Ekspor Impor Indonesia/ASEI dan PT Palapa Nusantara Berdikari).

“Kegiatan ini bisa memfasilitasi sinergi konkret lintas pemangku kepentingan, dunia usaha, pemerintah dan lembaga pembiayaan nonperbankan. Kegiatan ini bukan hanya terbatas pada pembekalan tentang prosedur ekspor dan pendampingan bisnis saja, tetapi juga bantuan permodalan bagi UKM yang memenuhi syarat,” papar GKR Pembayun.

Dia berharap kegiatan ini bisa menghidupkan UKM dan perekonomi DIY secara umum.