Rosan Perkasa Roeslani menilai sektor-sektor UKM dan industri kreatif yang selama ini mendapat porsi kecil harus ikut didorong karena lebih kokoh dalam menghadapi gejolak pasar global.

Menurut calon ketua umum KADIN ini, Bandung dan Jawa Barat secara umum merupakan pusat industri kreatif dan UKM nasional. Bandung, misalnya, sudah lama dikenal sebagai pusat kreativitas dalam hal desain, fesyen, arsitektur, film dan video, radio, musik, hingga teknologi perangkat lunak.

Bandung juga dikenal sebagai trend setter dalam hal mode bagi kaum muda, selain telah menguatkan posisi sebagai kota jasa yang menawarkan berbagai produk distro, kuliner, rumah produksi sinetron, dan produk seni rupa.

Tantangan yang dihadapi industri kreatif adalah minimnya kebijakan yang mendukung iklim kreasi, misalnya dalam hal perizinan, investasi, permodalan, dan perlindungan hak cipta.
Problem lainnya adalah industri kreatif yang acapkali berskala home industry masih berjalan sendiri-sendiri dan belum bersinergi untuk memperkuat posisi tawar di pasar.

“Yang dibutuhkan adalah formula rantai ekonomi bagi industri kreatif, yang mencakup kegiatan kreasi, produksi, hingga distribusi atau pemasaran. Bila rangkaian kegiatan ini bisa disinergikan maka produktivitas dan nilainya bisa jauh lebih besar,” katanya, dalam acara “Dialog Ekonomi Pengusaha Lokal – Nasional” di Hotel Crowne Plaza, Bandung, Jawa Barat, Kamis (8/10/2015) malam.

Rosan menilai positif kehadiran komunitas-komunitas kreatif di Jawa Barat yang telah menginisiasi sinergi antar produk maupun antar industri kecil. Kehadiran komunitas-komunitas tersebut bisa memacu pertumbuhan usaha-usaha rintisan (start-ups) lain.

“Munculnya start-up sejenis justru menghadirkan persaingan yang kemudian bisa meningkatkan kreativitas. Dari sinilah muncul produk-produk unggulan, local champion, yang jika dikelola secara tepat akan mampu berbicara juga di pasar global,” tandas pemilik Recapital Group ini.

Lebih lanjut dirinya memaparkan pentingnya UKM sebagai penggerak ekonomi di Jabar. Data BPS tahun 2014 menunjukkan Provinsi Jabar berada di peringkat kedua dalam jumlah dan jenis UKM per desa/kelurahan dengan jumlah total 16.405.

Industri makanan dan minuman menempati posisi pertama dengan jumlah 4.023, disusul industri olahan dari kayu (3.987), industri anyaman (2.266), industri gerabah/keramik (1.828), serta industri konveksi dan tenunan (1.779).

Dia meyakini, bila UKM mampu digerakkan, pertumbuhan ekonomi Jabar, meskipun melambat namun bisa tetap di atas angka rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Yang terpenting, sektor yang terbukti berkontribusi bagi roda perekonomian provinsi dan memiliki peluang pasar yang besar bisa mendapatkan prioritas pemerintah.

Salah satunya adalah produk teknologi informatika. Terbukti, sektor ini menjadi penyumbang terbesar bagi perekonomian Jawa Barat pada Triwulan II 2015 sebesar 19,12 persen.

Salah satu karya nyata Rosan melalui Pembiayaan Palapa Nusantara Berdikari (palapa), telah berhasil mengerakan UKM di Jawa Barat melalui bantuan modal bagi UKM potensial dalam rangka mendukung terangkatnya brand lokal sebagai “local champion” adalah PT Sandy Putra
Sebagai UKM industri pengolahan Kopi pada ahun 2013 dapat bantuan permodalan dari Palapa, saat ini perusahaan tersebut telah berkembang pesat dan produknya sudah berhasil ekspor ke Afrika Utara.

Sumber: Bisnis.com