Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perbankan & Finansial, Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, bunga pinjaman perbankan nasional masih terbilang tinggi. Hal ini dipengaruhi tingkat efisiensi lembaga keuangan dan perbankan di Indonesia masih rendah di banding lima negara anggota di Asean.

“Tingkat net interest margin (NIM) di Indonesia masih di atas 4,5 persen, sedangkan NIM di lima negara ASEAN di kisaran angka 3 persen,” kata Rosan di Jakarta, Senin (9/11/2015).

Rosan bilang, tingginya NIM perbankan di Indonesia, berdampak kepada biaya dan tingkat suku bunga perbankan masih tinggi. Saat ini, suku bunga di Indonesia di kisaran 12%, jauh di atas Thailand yang besarnya 6,5%, Filipina 5,5%, Singapura 5% dan Malaysia 4,5%.

“Hal ini berimbas pada dunia usaha, terutama dalam konteks pembiayaan. Kondisi ekonomi yang sudah berefek pada capital flight, naiknya harga-harga barang impor, dan meningkatnya hutang, akan semakin sulit bagi dunia usaha jika kredit perbankan pun ikut menjadi beban,” ucap Rosan.

Sementara itu, Yukki Hanafi, Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) memandang poin-poin pemaparan Rosan sangat positif bagi dunia usaha.

Yukki menilai, Rosan layak memimpin Kadin karena dianggap piawai dalam membangun komunikasi yang efektif dengan setiap poros bisnis-industri di Tanah Air. “Figur seperti itu kita temukan pada diri Rosan,” kata Yukki.

sumber: ekonomi.inilah.com